Senja baru saja tergelincir. Teja mengambang memberi teduh pandangan. Sesekali trotoar bernyanyi sengau memacu debu jalanan yang terbang lalu jatuh serupa kibasan helikopter menghempas reruntuhan. Aku hanya diam tertunduk menekuri bumi luruh, lesu dan tak bergairah. Geliat kota yang menyajikan parodi elegi jingga membawa anganku melintasi pusaran waktu melewati waktu paruh.
Itulah, sebentuk elegi senja di jidatnya
wahai apa yang bisa disemai
oleh gundah
oleh resah
oleh gelisah
pada lentera-lentera yang kian menyala
menampar bibir-bibir kusam
lantaran debu jalanan
oh, inilah kita
tak secuma pandai bicara
lalu latah menelan butir-butir imaji
mengunyah menjadi sampah
tak berarti
oh, inilah…